Akupunktur: Pendekatan biomedis

November 15, 2007 at 5:30 am (Therapy)

    Akupunktur secara harfiah bisa diartikan sebagai penggunaan jarum untuk membuat perlukaan pada jaringan lunak. Sementara biomedis berarti aplikasi ilmu pengetahuan alam, khususnya ilmu biologi dan fisiologi, pada pengobatan klinis. Kata akupunktur yang identik dengan ilmu pengobatan timur ketika disatukan dengan kata biomedis yang sangat kental rasa baratnya menghasilkan pengertian yaitu aplikasi prinsip-prinsip biologi dan neurofisiologi pada akupunktur klinis.
Seperti apa prinsip kerja akupunktur ditinjau secara biomedis? Jarum dan perlukaan yang disebabkan oleh jarum tersebut mengaktifkan mekanisme pertahanan tubuh yang menormalkan homeostasis dan mendorong terjadinya penyembuhan oleh tubuh sendiri. Proses ini meliputi dua bagian: sentral (pusat) dan perifer (tepi).
Pada mekanisme sentral, penusukan jarum dan luka yang diakibatkannya menstimulasi bagian-bagian pada otak yang mengaktifkan sistem pertahanan tubuh (saraf, endokrin/hormon, imun, dan peredaran darah) dan menormalkan aktivitas fisiologis tubuh secara keseluruhan. Sementara itu pada mekanisme perifer penusukan jarum dan perlukaannya memicu reaksi fisiologis disekeliling titik penusukan yang mempengaruhi empat sistem pertahanan tubuh tadi dalam melawan rasa sakit yang ditimbulkan pada jaringan yang ditusuk dan sekaligus memperbaiki jaringan yang rusak tersebut. Reaksi beruntun empat sistem tadi, termasuk reaksi imun, yang terjadi pada titik penusukan disebut reaksi lokal penusukan.
Pengertian akupunktur jadinya berkembang menjadi suatu terapi fisiologis yang dikoordinir otak dimana otak merespon terhadap stimulasi penusukan, baik secara manual atau dengan bantuan listrik, pada saraf sensoris perifer. Lho, bukannya menurut akupunktur TCM (Traditional Chinese Medicine) titik-titik penusukan (acupoints) tempatnya spesifik pada tempat yang dijelaskan dengan konsep meridian energi tubuh? Pada prinsipnya, acupoints pada akupunktur biomedik adalah dimana saja selama ada saraf sensoris yang menempel di kulit. Hal ini sudah dibuktikan dengan menggunakan peralatan medis yang dapat memantau aktivitas kerja otak, dimana pasien yang ditusuk pada titik meridian dengan pasien yang ditusuk pada saraf sensoris perifer ternyata mengalami perubahan aktivitas otak yang serupa. Meskipun demikian, akupunktur biomedik akhirnya merumuskan acupoint yang didasarkan pada area-area umum yang terasa nyeri di bagian tubuh bila ditekan (pada kondisi homeostasis) dan acupoint tambahan pada area-area yang terasa sakit ketika tubuh menderita suatu penyakit (kondisi homeostasis tidak normal).
Konsep yang paling penting dalam akupunktur adalah bahwa akupunktur tidak mengobati gejala suatu penyakit namun menormalkan homeostasis fisiologis melalui stimulasi saraf yang menjadi reseptor rasa sakit sehingga mendorong terjadinya penyembuhan oleh tubuh sendiri. Homeostasis adalah suatu keadaan dimana seluruh mekanisme dalam tubuh bekerja secara optimal dalam menghadapi lingkungan luar tubuh yang selalu berubah. Regulator utama homeostasis tubuh adalah poros Hipotalamus-Pituitari-Adrenal (HPA axis). Kelancaran interaksi antara tiga sistem itulah yang menentukan kondisi homeostasis seseorang.
Seperti kita ketahui bahwa ada banyak jenis rasa sakit, misalnya pedih, panas, sakit berdenyut, sakit tersayat, sakit terkena benda tumpul, sakit tersengat, sakit melilit, dll. Rasa sakit yang timbul akibat adanya gangguan merupakan usaha tubuh untuk mengatasi gangguan tersebut namun gagal mencapai ambang batas rasa sakit tersebut. Stimulasi acupoint membantu tubuh untuk melampaui ambang batas tersebut. Hal itu dilakukan sedemikian hingga tubuh akhirnya hanya merespon rasa sakit karena akupunktur. Sakit yang biasa muncul ketika diterapi akupunktur adalah ngilu, berat, dan tersetrum. Sakit-sakit tersebut kemudian memberikan rasa lega dan mungkin rasa kantuk, ini berkaitan dengan pelepasan hormon-hormon otak ke seluruh tubuh. Setelah sampai pada kondisi tersebut maka proses penormalan aktivitas fisiologis menjadi lebih mudah.
Lalu kalau begitu apakah setiap penyakit bisa di “stimulasi kesembuhannya” dengan akupunktur? Akupunktur bukan ilmu dewa, kemanjurannya bergantung paling penting pada dua hal yaitu: potensi suatu gejala atau penyakit untuk disembuhkan; dan potensi penyembuhan oleh diri sendiri yang dimiliki oleh seorang pasien. Selain itu seorang yang sedang menjalani terapi akupunktur tetap harus menjalani pola hidup yang mendukung daya penyembuhan oleh tubuhnya.
Apakah dengan adanya akupunktur biomedis ini lama kelamaan akan mendepak ilmu akupunktur kuno yang berdasarkan hukum yin-yang, ajaran lima unsur, sistem 12 meridian tubuh, dan memiliki ribuan titik yang harus dihapal? Secara pribadi saya rasa itu tidak akan terjadi. Pada prinsipnya, suatu ilmu kebudayaan yang dijabarkan ke dalam ilmu kebudayaan lain tidak akan pernah sempurna terjabarkan. Contoh paling sederhananya adalah ilmu bahasa dimana satu kata bahasa tidak selalu memiliki satu arti di bahasa yang lain, mungkin ia akan menjadi memiliki banyak arti atau malah tidak dapat diartikan sama sekali. Toh, tujuan penjabaran akupunktur ke dalam dunia biomedis hanya untuk menjembatani ketimpangan dunia medis terhadap “bahasa” ilmu akupunktur kuno. Meskipun hanya menjembatani, perkembangan akupunktur biomedis mempercepat lahirnya akupunkturis-akupunkturis baru dengan pengetahuan dasar yang cukup untuk melakukan akupunktur secara aman tanpa perlu mendalami dulu seluruh ilmu akupunktur kuno. Penganut ilmu akupunktur kuno pun menjadi semakin lega karena ilmu pengobatannya tidak lagi ditolak oleh kebudayaan lain malahan prinsipnya berhasil dipahami dengan bahasa kebudayaan lain.

1 Comment

  1. Hakan Tanyel said,

    Go shares for the thank you

Post a Comment